21 Jun

Orang kota harus belajar arti “kebersamaan”… (pengalaman desa Joho, Pracimantoro)

Sebelum pulang menuju solo, saya bertemu dengan kepala desa Joho di Pracimantoro untuk memberikan sekedar bantuan untuk pembangunan balai dusun di desa itu… Wah.. saya diterima dengan begitu hangatnya dan begitu ramahnya,.. disuguhi teh manis dan ”jadah” goreng.. atau mungkin bahasa kotanya ketan goreng…

Walaupun tidak banyak, dengan bantuan yang saya berikan telah membuat silaturahmi sesama saudara setanah air bisa terus harmonis dan terjaga.. Rencana balai dusun tersebut akan dibangun ditanah milik desa…

Semangat para panitia pembangunan sangat terasa sekali, mereka saling bergotong royong, bahu membahu tanpa pamrih untuk membangun balai dusun demi kepentingan umum dan mengenyampingkan kepentingan pribadi.. Suasana berbeda sekali yang saya rasakan di perkotaan khususnya di Jakarta, jarang orang yang peduli akan sesama, banyak orang saling menyikut demi untuk perut sendiri, orang saling melukai demi keuntungan pribadi, wah wah wah… begitulah kehidupan di Jakarta.. yang benar menjadi salah, yang melanggar menjadi benar..

Mungkin kadang kita yang merasa mempunyai pemikiran maju, pendidikan tinggi, materi yang lebih… harus belajar lagi dengan orang – orang desa yang kadang kita acuhkan.. ternyata mereka lebih mengerti arti kebersamaan, kedamaian, dan nilai – nilai Pancasila yang saya pelajari di sekolah sangat melekat sekali dikehidupan mereka sehari hari… Arti “kebersamaan”, mungkin kata itu yang mulai hilang di perkotaan.. hmmm mungkin sekolah , universitas, dan tempat orang – orang menimba ilmu perlu ditaruh di pedesaan? Jadi kita bisa belajar dari guru – guru yang ”asli” mengajarkan cara bagaimana hidup damai bersama di dunia Indonesia yang kita cinta ini…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *